Senin, 25 Oktober 2021

Bahasa daerah (Sunda) memiliki kedudukan penting untuk memperkenalkan kearifan lokal

KBM: Bahasa Sunda (Agus Suprapto, S. Pd)
“Pembelajaran bahasa daerah pun dianggap sebagai gerbang untuk menanamkan dan mempertajam nilai-nilai karakter bangsa, melatih kepekaan berpikir, olah rasa, olah karsa, serta sarana menyalurkan gagasan dan imajinasi secara kreatif,”

Diseminasi Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Sunda di Sekolah di Provinsi Jawa Barat

Diseminasi, dalam bahasa Inggris disebut sebagai dissemination, adalah suatu kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut.

Bahasa daerah (Sunda) memiliki kedudukan penting untuk memperkenalkan kearifan lokal (local wisdom) sebagai landasan etnopedagogis. Selain itu, bahasa daerah dianggap sebagai kekayaan dalam kebhineka- tunggal- ikaan bahasa dan budaya Nuasantara yang menjadi landasan pendidikan karakter bangsa. Oleh karenanya, Kepala Balai Bahasa Jawa Barat, Syarifuddin, mengadakan diseminasi model pembelajaran bahasa dan sastra sunda di sekolah di Provinsi Jawa Barat.  

“Pembelajaran bahasa daerah pun dianggap sebagai gerbang untuk menanamkan dan mempertajam nilai-nilai karakter bangsa, melatih kepekaan berpikir, olah rasa, olah karsa, serta sarana menyalurkan gagasan dan imajinasi secara kreatif,” katanya pada Sabtu (23/10), di Bandung.

Selain itu melalui pembelajaran bahasa, siswa akan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta pengalaman apresiasi dan ekspresi bahasa dan sastra, di samping meningkatkan kecerdasan logika dan retorika.

Untuk memelihara keberadaan bahasa dan sastra daerah, Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Kerja sama tersebut adalah kegiatan menyebarkan  gagasan dan wawasan untuk meningkatan model-model pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah, khususnya di Provinsi Jawa Barat. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian yang awalnya adalah menyamakan persepsi dan strategi yang dilakukan secara virtual dengan perwakilan dinas pendidikan kabupaten/kota, ketua MGMP bahasa Sunda, dan guru-guru Bahasa Sunda.

“Tiga kali pertemuan virtual dilaksanakan, yaitu pada bulan Maret, April, dan Mei untuk membahas strategi tersebut,” tambah Syarifuddin.  

Akhirnya, disepakati bahwa kegiatan ini dilaksanakan dalam tiga tahapan. Tahapan pertama adalah membahas konsep atau kerangka berpikir dengan pakar bahasa Sunda, dinas pendidikan kabupaten/kota, dan calon pengajar. Nantinya, kegiatan dilakukan dalam bentuk pencerahan pemikiran, yaitu Koordinasi Pakar, Calon Pengajar, dan Pemangku Kepentingan Bahasa dan Sastra yang menghasilkan Pedoman Diseminasi Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Sekolah di Provinsi Jawa Barat dengan tujuh komponen.

“Yaitu borangan (stand up comedy), pidato (biantara), menulis cerita pendek (nulis carpon), mendongeng (ngadongeng), tembang pupuh (bijil, sinom, asmarandana dsb.), membaca sajak Sunda, dan menulis aksara Sunda,” jelas Syarifuddin.

Tahapan kedua  diwujudkan dalam bentuk pelatihan atau praktik baik dengan  program aksinya adalah Diseminasi Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Sekolah di Provinsi Jawa Barat. Kegiatan ini melibatkan satu orang dari unsur dinas pendidikan kabupaten kota, dua guru bahasa Sunda SMP, dan dua guru bahasa Sunda SD di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.

Tahapan ketiga adalah melaksanakan lomba atau pasanggiri yang dilakukan di tiap-tiap dinas pendidikan kabupaten/kota hingga tingkat provinsi dengan tujuh komponen mata lomba.

Syarifuddin berharap, pelaksanaan kegiatan Diseminasi Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Sekolah di Provinsi Jawa dapat memperkuat sikap (karakter), memperluas pengetahuan (wawasan), serta melatih dan mengembangkan sikap positif bagi siswa SD dan SMP terhadap budaya Sunda melalui kegiatan pergelaran (pertunjukan) dan pasanggiri (perlombaan) bahasa, sastra, aksara Sunda.

“Kami juga ingin melihat sekaligus menjadikan bahan evaluasi awal dari hasil pembelajaran bahasa, sastra, aksara, Sunda pada jenjang SD DAN SMP sehingga bahasa, sastra, aksara Sunda pada bidang pendidikan, hususnya pada jenjang satuan pendidikan dapat terus terpelihara,” pungkasnya.* (Denty A.)
Sumber : https://www.kemdikbud.go.id/

KBM: Sundanese (Agus Suprapto, S. Pd)

Artikel Menarik