Kamis, 28 Oktober 2021

Teladan Nabi Muhammad ﷺ dan Adab Menghormati Guru

Kisah teladan Nabi Muhammad SAW penting untuk diketahui karena merupakan suri tauladan bagi umat islam. sebagai seorang muslim sudah selayaknya bagi kita meneladani sifat dan perilaku mulia Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan kita sehari-hari.



Seperti yang tertuang dalam firman Allah dalam Surat Al Ahzab, yaitu:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullahsuri teladan yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS Al Ahzab: 21)

Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW

Nah, berikut ini merupakan beberapa kisah teladan Nabi Muhammad SAW yang bisa kita contoh dan terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
  • Berlaku lemah lembut
Salah satu contoh yang dapat ditiru dari perilaku Nabi Muhammad adalah sifat nya yang lemah lembut kepada siapapun. Pernah suatu waktu ada seorang pengemis Yahudi buta yang selalu menghina Nabi. Pengemis tersebut selalu ditemani dengan seseorang yang menyuapinya dengan sabar dan penuh kelembutan. 

Singkat cerita, seseorang yang biasa menemani pengemis tersebut tidak datang kembali untuk menyuapinya. Kemudian digantikan oleh Abu Bakar As Shidiq. Kemudian sang pengemis tersebut seketika hanya ingin disuapi oleh seseorang yang biasa menyuapi nya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang tersebut. 

Abu Bakar pun seketika berkata, “Aku memang bukan lah orang yang biasa datang dan menyuapimu, aku juga tidak bisa selemah lembut orang itu, namun ketahuilah aku merupakan sahabat dari orang yang selalu menyuapi mu. Orang yang biasa menyuapi mu tersebut kini telah wafat dan aku hanya ingin melanjutkan amalan beliau.”

Kemudian sang pengemis buta itu pun terdiam dan bertanya kepada Abu Bakar, siapakah orang yang selama ini menyuapi dan memberikan nya makan. Abu Bakar pun menjawab, bahwa orang tersebut adalah Rasulullah SAW. Seseorang yang selama ini Ia hina, fitnah, dan rendahkan. 

Sang pengemis pun kaget luar biasa, air matanya pun menetes, dan saat itu juga Ia bersaksi di hadapan Abu Bakar untuk mengucapkan kalimat syahadat. Pengemis tersebut memilih untuk masuk Islam setelah hinaan dan sumpah serapahnya kepada Nabi Muhammad dibalas dengan kasih sayang.

Kita tentu bisa mencontoh kisah tersebut dalam kehidupan kita, untuk selalu berbuat baik kepada siapapun, termasuk orang yang menyakiti hati kita karena dibalik itu aka nada kebaikan yang terus mengalir.
  • Memberi dan Mengasihi
Pernah suatu ketika Rasulullah menitipkan uang untuk disimpan kepada istrinya Aisyah Ra. Ketika kondisi kesahatan Rasulullah semakin memburuk Ia bertanya kepada Aisyah mengenai uang yang pernah Ia titipkan tersebut. 

Kemudian Rasulullah meminta Aisyah untuk membagikan uang tersebut di jalan Allah, Ia berkata bahwa Ia akan malu apabila kelak bertemu Allah namun masih terdapat timbunan uang di rumah nya.

Nabi Muhammad memang rajin bersedekah dan memudahkan segala urusan para umatnya yang mengalami kesulitan. Ia pun selalu mengajak umatnya untuk selalu bersedekah dan melakukan kebaikan.
  • Ketulusan dan Membantu Sesama
Rasulullah memang dikenal sangat senang membantu sesama termasuk memerdekakan para budak, dan anak-anaknya. Salah satu nya Ummu Aiman dan putra nya Usamah bin Zaid, yang kemudian menjadi kesayangan Rasulullah. 

Setelah menikah dengan Khodijah, Nabi memerdekakannya. Ia merupakan orang yang telah merawat Nabi Muhammad SAW ketika kecil, sehingga beliau sudah menganggapnya seperti ibu sendiri.

Ketulusan hati Rasulullah dengan memerdekakan budak dan membantu orang lain dalam kesulitan merupakan hal yang perlu kita contoh dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Adab Menghormati Guru

Ulama-ulama terdahulu memberikan perhatian yang besar dalam masalah menghormati guru. Sebab menghormati dan mengangungkan guru adalah salah satu sebab keberkahan ilmu didapatkan.

Keberkahan dalam dunia pesantren berarti ziyadatul khair bertambahnya kebaikan yang bersifat immateri seperti kedamaian hidup dan kenikmatan ibadah.

Adapun tatacara menghormati guru atau kiai menurut Syaikh Burhanuddin dalam kitab Ta’lim Muta’allim menjelaskan

ومن توقير المعلم أن لايمشى أمامه، ولا يجلس مكانه، ولا يبتدئ بالكلام عنده إلا بإذنه، ولا يكثر الكلام عنده، ولا يسأل شيئا عند ملالته ويراعى الوقت، ولا يدق الباب بل يصبر حتى يخرج الأستاذ

Bahwa termasuk arti menghormati guru, yaitu jangan berjalan di depannya; duduk di tempatnya; memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya; berbicara macam-macam darinya; dan menanyakan hal-hal yang membosankannya. Cukuplah dengan sabar menanti di luar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah.

Pada intinya adalah melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan amarahnya dan menjunjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama. Sebab orang tidak boleh taat kepada makhluk dalam melakukan perbuatan durhaka kepada Allah Maha Pencipta.

Diceritakan dalam Ta’lim Muta’allim bahwa Syaikh Al-Khulwaniy, imamnya para imam, karena suatu peristiwa yang menimpa dirinya, maka beliau pindah untuk beberapa lama. Dari Bukhara ke suatu pedesaan.

Semua muridnya berziarah kesana kecuali satu orang saja, yaitu syaikhul imam Al-qadli Abu Bakar Az-Zarnujiy. Setelah suatu saat bisa bertemu, beliau bertanya:

لماذا لم تزرنى؟ قال: كنت مشغولا بخدمة الولادة. قال: ترزق العمر، لاترزق رونق الدرس، وكان كذلك، فإنه كان يسكن فى أكثر أوقاته فى القرى ولم ينتظم له الدرس

“kenapa engkau tidak menjengukku? Jawabnya : “Maaf tuan, saya sibuk merawat ibuku” Beliau berkata: “Engkau dianugerahi panjang usia, tetapi tidak mendapat anugerah buah manis belajar.” Lalu kenyataanya seperti itu, hingga sebagian banyak waktu Az-Zarnujiy digunakan tinggal di pedesaan yang membuatnya kesulitan belajar.

Jadi jangan sampai melakukan hal-hal yang menyakiti hati guru dan kiaimu. Lakukanlah hal yang diajarkannya untuk mendapatkan ridhanya. Sebab barang siapa melukai hati sang gurunya, berkah ilmunya tertutup dan hanya sedikit kemanfaatan yang diperoleh dari ilmu itu.
  • Guru adalah Makhluk yang Sangat Istimewa
Akankah ada dokter, insinyur, arsitek, tentara, dan semua profesi yang lainnya di duia ini. Andaikan tidak ada manusia dengan sebutan “guru”. Guru adalah seseorang yang meski tidak sempurna, ia selalu berusaha agar ilmu, akhlak dan moral anak-anak didiknya semakin baik dan mendekati sempurna.

Bagi seorang guru, murid adalah jiwa serta ruh mereka. Yang akan menumbuhkan sayap, menjamah peradaban yang paling penting dalam sebuah kehidupan. Murid-muridnya adalah sebaris nama yang tak pernah ia lupa dalam doanya. Bagi seorang guru keberhasilannya bukanlah diukur dari seberapa tinggi angka kesuksesaannya sendiri, akan tetapi terhitung dari seberapa sukses dan berhasil anak-anak didiknya.

Kemarahan seorang guru adalah luapan cinta, perlindungan, dan kasih sayangnya terhadap anak didiknya. Air matanya adalah lintasan duka dan luka saat anak didiknya terluka dari sisi jiwa maupun raga. Dia akan selalu mengayomi, memberikan rasa nyaman kepada anak didiknya. Memberikan ilmu semampunya, bahkan belajar lagi dan lagi demi memenuhi kehausan ilmu para anak didiknya.

Dalam islam seorang guru adalah makhluk yang sangat istimewa. Sebegitu istimewanya hingga syaikhona Hasyim Asy’ari (pendiri NU) memuliakan dan menaati segala tutur katanya. Belajar dari guru kita mbah Hasyim, beliau adalah orang yang begitu ta’dzim kepada gurunya mbah Kholil (Syaikh Kholil Bangkalan). Beliau bahkan rela mengarungi jamban yang penuh kotoran demi membasuh rasa sedih nyai Kholil yang mana saat itu cincin pernikahannya tercebur di sana.

Guru adalah mereka yang memberikan kebebasan (kemerdekaan) pikiran kepada anak didik mereka. Kebebasan yang ada pada lintasannya, kebebasan yang bertanggung jawab. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang mengarungi dinginnya malam demi mempersiapkan ilmu bagi anak didiknya.

Dalam kitab ta’alim muta’alim terdapat satu bab yang membahas pentingnya menghormati guru. Ilmu akan sampai pada akal, hati, dan jiwa mereka apabila mereka memuliakan ahlinya (guru). Mengapa sedemikian hebatnya seorang guru disinggung dalam kitab tersebut? 

Karena seorang guru adalah mereka yang mengajari kita ilmu, menyelamatkan kita dari kepincangan dan kebutaan ilmu. Mereka adalah orang-orang yang dengan sederhana memberikan yang terbaik bagi kita. Merawat dan menjaga kita layaknya anak sendiri. Seseorang yang tak pernah marah dan dendam saat kita membuat hatinya kecewa.

Artikel Menarik